Central Omega Resources (DKFT) : Saat Supply yang Menjadi Masalah
Menilik Peluang dari Industri Nikel
Central Omega Resources (DKFT) : Saat Supply yang Menjadi Masalah
Stock categories: special condition
SUMMARY
- DKFT memiliki Punya 3 IUP Nikel yang sudah operasi
- IMN (itamatra), MPR (Mulia Pacific Resources), BKA (bumi Konawe Abadi)
- DKFT memiliki smelter melalui CORII
- 2018 CORII beroperasi secara komersil, menggunakan teknologi lama (blast furnace) dan memproduksi FeNi (feronikel)
- 2020 dan 2021 rugi karena batubara kokas (komponen utama dalam balst furnace) naik, harga jual FeNi tidak dapat mengimbangi
- CORII restruk hutang menurunkan bunga pinjaman dari 6,5% ke 0,5% dan memperpanjang jatuh tempo dibayar 2024-2031
- Di akhir 2023, RKAB pada awalnya keluar per tahun, namun sekarang jadi tiap 3 tahun
- Tambang MPR RKAB nya akan terbit dalam waktu dekat
- Target manajemen 2024 2,2 juta ton bijih nikel, target realistis karena biasanya per bulan bisa menghasilkan 300k ton bijih, utk mencapai target hanya perlu mengejar 250k ton per bulan mulai juli
- HPM turun, tapi smelter tetep bersedia membayar di harga tinggi (premium) untuk bijih nikel mentahnya sehingga penambang dapet keuntungan lebih (premium = ga peduli sma hpm)
- Why? Karena perubahan waktu persetujuan RKAB dari 1 menjadi 3 tahun (penundaan RKAB), akibatnya tambang tidak bisa produksi
- Walaupun begitu, smelter harus tetap berjalan, jadi pihak smelter berlomba lomba mencari barang dan bersedia bayar mahal untuk bijih nikel
- Alhasil di lapkeu akhir 2023, Sino Indo Nikel memberikan uang muka supaya biji nikelnya DKFT ga kemana mana (lock contract)
- DKFT masih punya bom waktu smelter lamanya (CORII) beroperasi kembali
- supaya cost smelternya bisa ekonomis, harga batubara kokasnya lebih baik di level +-100 usd per ton
Masalah DKFT terjadi karena supply demand driven bijih nikel akibat penyesuaian RKAB, kondisi sementara, maka dari itu saham digolongkan dalam special condition.
This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.